Perawatan Terhadap Klien Skizofrenia
Diyan Dwi Retno Sari
STr. Keperawatan Lawang
diyandwiretnosari@gmail.com
Abstraksi
Gangguan mental dapat di sebabkan oleh berbagai hal mulai dari kehilangan sampai rasa tidak terima terhadap kehidupan yang di alami. Hal ini dapat menimpa siapapun bahkan pada generasi saat ini yang tergolong dalam generasi moderen yang mengakibatkan banyak tekanan dalam segi apapaun, baik di bidang ekonomi maupun sosial. Hal ini menyebabkan banyak pengaruh bagi diri seseorang, bahkan dapat mengakibatkan gangguan sikis ataupun mental. Seperti gangguan skizofrenia pada individu yang di sebabkan oleh ketidakmampuan sesorang untuk menerima keadaan yang ada. Skizofrenia biasanya di sebabkan oleh guncangan yang terjadi pada jiwa seseorang sehingga menyebabkan dirinya tidak mampu dan tidak ingin mengalami hal yang ia rasakan pada saat itu juga. Gangguan ini bisa di temukan pada siapapun baik pria maupun wanita pada kisaran 20-30 tahun. Semakin dini seseorang terjangkit gangguan skizofrenia semakin besar pula pengaruh yang di alami penderita dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu di perlukan peran serta perawat dalam menangani dan membantu pasien untuk meringankan gangguan yang ia alami, sehingga ia bisa menjalankan aktivitasnya sehari-hari secara lebih baik dari sebelumnya. Dalam tahap ini perawat biasanya melakukan mediasi dengan pasien agar mengetahui perkembangan yang di alami oleh pasien. Oleh karenanya seorang perawat harus mengetahui fase dan penyebab dari gangguan yang di alami oleh pasien sehingga dapat menangani sesuai dengan kebutuhan pasien.
Kata kunci : Skizofrenia, Gangguan mental skizofrenia, Perawatan pasien skizofrenia, peran perawat, Penyebab skizofrenia
Pendahuluan
Di era moderen seperti saat ini banyak sekali inovasi-inovasi baru yang menuntut masyarakat lebih pandai dalam memanfaatkan peluang baik di dunia kerja, pendidikan, maupun pergaulan. Sehingga menyebabkan tak sedkit masyarakat merasa tertekan terhadap kehidupannya, entah karena pergaulan atau memang karena beban hidup yang terlalu berat. Tetapi hal ini jelas berdampak terhadap kesehatan mental seseorang. Kesehatan mental seseorang sangat penting di jaga walaupun banyak dari masyarakat tidak terlalu menyadari akan pentingnya hal itu.
Tak hanya di bidang sosial saja, kesehatan mental juga di pengaruhi oleh lingkungan keluarga. Dimana kesehatan jiwa raga akan terpenuhi jika dalam lingkungan keluarga terdapat keharmonisan serta rasa kasih dan sayang sehingga bagaimanapun keadaan seseorang di masyarakat jika terdapat dorongan positif dari keluarganya akan terjamin pula kesehatan dalam dirinya. Baik secara fisik maupun mental.
Jika lingkungan keluarga maupun masyarakat telah sesuai keinginan seseorang maka kehidupannya akan berjalan normal tanpa ada gangguan apapun. Tetapi jika kehidupan tidak sesuai dengan keinginan tertentu seseorang hal ini dapat menyebabkan ketidak terimaan akan kehidupan. Hal ini sering menyebabkan kestabilan mental seseorang terganggu, tak hanya terganggu banyak di antaranya bahkan mengalami gangguan mental yang biasa di sebut Skizofrenia. Penyakit ini bisa di sebabkan karena rasa kehilangan yang mendalam dan tekanan yang di peroleh dari lingkungan luar.
Dengan kehidupan yang kian modern tak heran jika banyak orang yang merasa tertekan akibat perkembangan jaman yang begitu pesat ini. Banyak orang merasa kehidupan tak sesuai dengan apa yang ia harapkan dahulu sehingga menyebabkan tekanan dalam dirinya sendiri yang berakibat pada gangguan kesehatan mental dari seseorang.
Pengertian
Skizofrenia merupakan gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan baik. Skizofrenia juga tergolong dalam gangguan mental kronis yang di sebabkan oleh rasa kehilangan dan berduka yang menyebabkan jiwa seseorang menjadi terguncang. Marianti (2018) gangguan mental kronis berupa delusi yang menyebabkan penderita sulit membedakan antara kenyataan dengan halusinasi yang sering pasien alami.
Penyebab
Skizofrenia di sebabkan oleh faktor kombinasi dari psikologi, fisik, genetik, dan lingkungan. Dalami, dkk (2009) menyatakan bahwa kehilangan dan berduka bisa menyebabkan orang mengalami skizofrenia karena pasien telah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan yang menyebabkan dirinya tidak dapat menerima kenyataan sehingga pasien sering berhalusinasi tentang hal yang menyebabkan ia merasa kehilangan. Rasa kehilangan yang di alami tersebut biasa di sebut perasaan duka. Kehilangan adalah suatu keadaan dimana seseorang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert, 1985:35). Sedangkan duka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, dan lain-lain.
Fase Terjadinya
Engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat di aplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal. NANDA merumuskan 2 tipe dari berduka yaitu tipe diantisipasi dan disfungsional. Berduka diantisipasi adalah respon aktual dari seseorang yang masih dalam batas normal. Berduka disfungsional adalah keadaan di mana klien tidak mau menerima keadaan yang ada dan berusaha menyangkalnya. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan (NANDA, 2010)
Dari 2 tipe duka yang tercantum dalam buku NANDA terdapat pula 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. Menurut Martocchino (1985) 5 fase kesedihan tersebut meliputi :
- Penolakan
Bentuk ketidak terimaan terhadap kenyataan yang telah atau sedang di alami oleh klien
- Marah
Ketidak terimaan klien terhadap masalah yang sedang ia alami biasanya akan menyebabkan peluapan emosi terhadap benda maupun orang yang di sekitar
- Negosiasi atau perundingan
Adalah dimana seseorang merasa adanya dorongan putus asa untuk mendapatkan kembali
kontrol dari situasi yang sedang dialami
- Depresi
Perasaan yang di alami oleh klien karena merasa kehidupan tidak berpihak pada dirinya. Depresi dapat ditunjukkan dengan sering merenung atau menyendiri.
- Penerimaan
Klien mau menerima dan menyadari keadaan yang telah/sedang terjadi pada dirinya. Dalam fase ini berarti klien sudah sembuh dari kesedihan yang ia alami.
Menurut Darwin (2016) durasi kesedihan berfariasi dan bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri. Rasa kesedihan yang di rasakan secara normal biasanya berlangsung selama 2 tahun, tergantung dengan tingkatan kesedihan yang di rasakan.
Gangguan ini dapat menyerang semua kalangan baik pria maupu wanita, tetapi umumnya muncul pertama kali pada pria usia remaja atau 20an dan pada wanita biasanya di temukan pada usia 20-30an. semakin muda usia saat terjangkit maka resiko penderita akan semakin besar sehingga akan sulit menjalankan fungsi kehidupan dengan baik. (Budi 2017) ada 4 fase yang di alami oleh penderita skizofrenia. Fase pertama adalah fase dimana pasien mulai berhalusinasi, fase kedua pasien mulai berhalusinansi secara intens dan munculnya poerasaan tidak tertarik berinteraksi kepada dunia luar pada diri pasien, ketiga fase ini adalah fase dimana halusinasi mulai tidak dapat di kendalika oleh pasien itu sendiri, dan fase yang terakhir merupakan fase yang dapat mempengaruhi prilaku pasien akibat dari halusinasi yang telah pasien alami. Reaksi awal terhadap kehilangan berupa syok yang biasanya tidak disertai dengan rasa kekhawatiran psikologis (Katong, 2012). banyak dari penderita skizofronia yang mengalami ketidak percayaan dan keridakmampuan menerima keadaan yang terjadi. (Prabowo, 2014:114) individu yang mengalami kehilangan tidak percaya terhadap kenyataan yang terjadi, dengan mengatakan tidak.
Potter, Perry (2012) Kehilangan adalah situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang bianya ada menjadi tidak ada.
Sehingga sering kali mengakibatkan individu merasakan derita dan mucul lah ganguan yang di namakan dengan gangguan mental sebab pengaruh rasa kehilangan tersebut. Tanda awal dari gangguan mental adalah Perasaan sedih, menangis, perasaan putus asa, mengakhiri kehilangan, kesulitan mengekspresikan kehilangan, konsentrasi yang menurun, emosional, dan kehilangan minat untuk berinteraksi dengan dunia luar maupun orang lain serta adanya perubahan dalam kebiasaan makan, pola tidur dan perubahan pada tingkat aktivitas (Prabowo, 2014:117).
Penyakit ini biasanya di derita karena rasa kehilangan yang berlebih terhadap salah satu anggota keluarga yang di sayangi, hal ini terjadi karena rasa saying maupun ketidak terimaan
yang berlebuhan. Cara merawaat orang yang mengalami gangguan mental skizofrenia berbeda dengan pasien gangguan mental lainnya. Asuhan keperwatan pada fase kehilangan dan berduka adalah sebagai berikut:
- Perasaan sedih, menangis
- Perasaan putus asa
- Mengingkari kehilangan
- Kesulitan mengekspresikan perasaan
- Konsentrasi menurun
- Kemarahan yang berlebihan
- Tidak berminat berinteraksi dengan orang lain
- Merenungkan peraaa bersalah berlebihan
- Reaksi emosional yang lambat
- Adanya perubahan dalam pola aktivitas
(Iyus, Yoseph, 2007)
Penanganan
Meskipun gangguan jiwa tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidakmampuan serta invaliditas baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena mereka tidak produktif dan tidak efisien (Setyonegoro, 1980). Maka dari itu perawat harus membina kepercayaan pada klien dan sebisa mungkin terus berkomunikasi kepada klien agar tahu keadaan maupun perasaan yang sedang di alami oleh klien sehingga dapat dengan mudah membantu klien keluar dari masalahya. Pemahaman dan persepsi diri tentang pandangan di perlukan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Kurang memperhatikan perbedaan persepsi menjurus pada informasi yang salah, sehingga intervensi perawatan yang tidak tetap (Suseno, 2004). Dengan melakukan pendekatan terhadap pasien perawat dapat mengetahui seberapa jauh respon penyembuhan yang selama ini dilakukan.
Kesimpulan
Kesehatan mental seseorang dapat terganggu karena rasa kehilangan yang teramat dalam dan sulit untuk di terima oleh diri seseorang. Kesehatan mental yang terganggu dapat di sebut dengan Skizofrenia, dimana ketidakmampuan nalar seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan baik. Oleh karena itu penderita skizofrenia biasanya terbatas dalam melakukan aktivitas sehari-harinya. Maka dari itu di butuhkan tenaga kesehatan untuk menunjang aktivitas pasien skizofrenia pada kehidupannya.
Bagi seorang perawat wajib hukumnya untuk mengetahui fase dan penyebab yang mengakibatkan seseorang mengalami gangguan skizofrenia agar dapat merawat dan membantu meringankan beban yang di alami penderita, serta untuk melihat seberapa besar progres yang tercapai selama penderita skizofrenia menerima perawatan.
Skizofrenia bisa di bagi menjadi beberapa fase. Dalam fase-fase tersebut di butuhkan pula bantuan tenaga perawat untuk merawat pasien selama berlangsungnya proses keperawatan. Proses ini biasanya mengacu pada komunikasi antara perawat dan penderita sehingga mampu menghasilkan data kesehatan dari pasien yang telah di rawat sebelumnya.
Daftar rujukan:
- Budi, 2017. http://www.radarmalang.id/yuk-kenali-ada-4-fase-gejala-skizofrenia-yang-wajib-diketahui/. Diakses tanggal 17 September 2018
- Dalami, dkk. 2009. http://intisari.grid.id/read/0348908/5-tahap-kesedihan-yang-umumnya-kita-lewati?page=all. Diakses tanggal 17 September 2018
- Darwin,2016.https://googleweblight.vcom/i?u=https:pastakyu.wordpress.com/2010/01/21/asuhan-keperawatan-dan-berduka/&hl=id-ID . Diakses tanggal 17 September 2018
- Engel, 1964. https://wir.nursing.blogspot.com/2014/04/proses-berduka-terhadap-kehilangan.htm?ml=l. Diakses tanggal 17 September 2018
- http://anastasiachachablogspot.com/2014/05/askep-kehilangan-dan-berduka.html?m=l . Diakses tanggal 17 September 2018
- http://imron46.blogspot.com/2009/02/faktor-penyebab-gangguan-jiwa.html?m=l.Diakses tanggal 17 September 2018
- http://keperawatantanjungkarang.blogspot.com/2014/10/makalah-jiwa-pada-gangguan-skizofrenia.html . Diakses tanggal 17 September 2018
- https://ilmukeperawatan123.blogspot.com/2016/02/asuhan-keperawatan-jiwa-kehilangan.html?m=l. Diakses tanggal 17 September 2018
- https://keperawatantanjungkarang.blogspot.com/2014/10/asuhan-keperawatan-jiwa-kehilangan.html?m=l. Diakses tanggal 17 September 2018
- Iyush, Yoseph. 2007. https://pasuhanastakyu.wordpress.com/2010/01/21/asuhan-keperawatan-kehilangan-dan-berduka/. Diakses tanggal 17 September 2018
- Marianti,2018.https://storage/emulate/0/download/keperawatan-kesehatan%20JIWA_%Berduka%20Terhadap%20Kehilangan%20(Kubler-Ross),mhml . Diakses tanggal 17 September 2018
- Marthoccino, 1985. http://intisari.grid.id/read/0348908/5-tahap-kesedihan-yang-umumnya-kita-lewati?page=all. Diakses tanggal 17 September 2018
- Potter, Perry. 2012. https://samoke2012.files.wordpress.com/2017/03/lpsp-berduka-b.pdf. Diakses tanggal 17 September 2018
- Setyonegoro,1980.https://googleweblight.vcom/i?u=https:pastakyu.wordpress.com/2010/01/21/asuhan-keperawatan-perandan-berduka/&hl=id-ID. Diakses tanggal 17 September 2018
- Suseno, 2004. https://text-id.123dok.com/document/8ydx3jzp-peran-perawat-dalam-meningkatkan-kemampuan-bersosialisasi-pada-penderita-skizofrenia-di-rumah-sakit-jiwa-daerah-provinsi-sumatera-utara.html. Diakses tanggal 17 September 2018
Komentar
Posting Komentar